Cawapres Boediono berorasi dengan gaya berbeda. Pria yang sebelumnya dikenal lembut itu mengubah gayanya dengan berorasi berapi-api sambil menggerak-gerakkan tangannya ke arah massa. Boediono meminta capres yang kalah jangan sampai memusuhi yang menang.
ADVERTISEMENT
Boediono berorasi saat berkampanye di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta, Sabtu (4/7/2009). Boediono berorasi sebelum SBY. Ratusan ribu pendukung SBY-Boediono hadir dalam kampanye ini. Bendera parpol-parpol pendukung dikibar-kibarkan di banyak tempat. Begitu juga dengan bendera merah putih.
"Empat hari lagi rakyat akan menentukan pilihan. Saudara-saudara akan memilih pemimpin republik kita buat lima tahu mendatang. Mari berdoa agar pemilihan ini berjalan teratur dan berakhir dengan damai. Siapa pun yang menang. Mari kita berharap bahwa yang menang tidak akan melecehkan yang kalah, yang kalah tidak akan memusuhi yang menang," kata Boediono dengan mimik serius.
Boediono yang mengenakan kemeja warna putih merah berlogo SBY-Boediono menyatakan bahwa masyarakat harus optimitis bahwa Pilpres akan berlangsung damai. "Kita patut optimistis pemilu baru lalu menunjukkan rakyat kita sangat arif, sangat bijaksana dalam memilih wakil dan pemimpin mereka. Rakyat bisa menjaga kedaulatannya karena menolak untuk dibeli dan tidak terpedaya oleh janji-janji muluk," kata Boediono sambil menggerakkan tangan kanannya ke arah massa.
Dengan sambil sesekali melihat catatan yang dibawanya, Boediono menyampaikan bahwa SBY-Boediono tidak mau memberi janji berlebihan. "Cita-cita yang tinggi tidak membuat kami menjual mimpi," ujar Boediono yang disambut tepuk tangan.
Lebih lanjut Boediono menyatakan untuk membangun kembali Indonesia perlu kerja keras dan tekun, dengan kesadaran kekuatan dan juga keterbatasan yang dimiliki rakyat. "Indonesia berhasil bila kita bekerja semangat, sesuai naskah proklamasi, dengan cara seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya," kata pria bergelar profesor itu.
"Singkat, tapi harus tangkas. Selain tangka, kita juga harus seksama. Kepemimpinan efektif tidak sama dengan kepemimpinan asal terobos dan asal jadi. Kita perlu kepemimpinan efektif, karena didukung rakyat, bukan karena membungkam suara rakyat. Kita perlu kepemimpinan yang membuktikan keadilan ditegakkan, tidak melanggar HAM, tidak KKN dan tidak korupsi," sambung Boediono dengan nada menyindir.
Setelah itu, Boediono juga mencoba interaktif terhadap massanya. "Alhamdulillah, di antara kita, ada pemimpin yang memenuhi syarat-syarat itu. Siapa dia?" tanya Boediono dengan masih berapi-api. "SBY," jelas Boediono yang juga diiringi oleh jawaban massa pendukung.
Boediono juga memuji SBY yang dianggap berhasil memerintah Indonesia lima tahun terakhir. "Di bawah beliau, NKRI tetap utuh, demokrasi berkembang dan HAM terjaga. Indonesia juga bisa swasembada beras, setelah lepas seperempat abad," tutur Boediono.
Karena itu, menurut dia, rakyat tidak salah pilih bila dalam Pilpres kali ini memilih SBY lagi. "Saya sangat yakin Pak SBY akan membawa Indonesia ke masa depan dengan arah yang tepat," tegas Boediono.
Setelah itu, Boediono memanggil SBY untuk berorasi. "Mari kita sambut Dr H Susilo Bambang Yudhoyono," kata Boediono sambil diiringi tepuk tangan. Hingga pukul 17.20 WIB, SBY masih menyampaikan orasi dengan berapi-api dan suara menggelegar.
ADVERTISEMENT
Boediono berorasi saat berkampanye di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta, Sabtu (4/7/2009). Boediono berorasi sebelum SBY. Ratusan ribu pendukung SBY-Boediono hadir dalam kampanye ini. Bendera parpol-parpol pendukung dikibar-kibarkan di banyak tempat. Begitu juga dengan bendera merah putih.
"Empat hari lagi rakyat akan menentukan pilihan. Saudara-saudara akan memilih pemimpin republik kita buat lima tahu mendatang. Mari berdoa agar pemilihan ini berjalan teratur dan berakhir dengan damai. Siapa pun yang menang. Mari kita berharap bahwa yang menang tidak akan melecehkan yang kalah, yang kalah tidak akan memusuhi yang menang," kata Boediono dengan mimik serius.
Boediono yang mengenakan kemeja warna putih merah berlogo SBY-Boediono menyatakan bahwa masyarakat harus optimitis bahwa Pilpres akan berlangsung damai. "Kita patut optimistis pemilu baru lalu menunjukkan rakyat kita sangat arif, sangat bijaksana dalam memilih wakil dan pemimpin mereka. Rakyat bisa menjaga kedaulatannya karena menolak untuk dibeli dan tidak terpedaya oleh janji-janji muluk," kata Boediono sambil menggerakkan tangan kanannya ke arah massa.
Dengan sambil sesekali melihat catatan yang dibawanya, Boediono menyampaikan bahwa SBY-Boediono tidak mau memberi janji berlebihan. "Cita-cita yang tinggi tidak membuat kami menjual mimpi," ujar Boediono yang disambut tepuk tangan.
Lebih lanjut Boediono menyatakan untuk membangun kembali Indonesia perlu kerja keras dan tekun, dengan kesadaran kekuatan dan juga keterbatasan yang dimiliki rakyat. "Indonesia berhasil bila kita bekerja semangat, sesuai naskah proklamasi, dengan cara seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya," kata pria bergelar profesor itu.
"Singkat, tapi harus tangkas. Selain tangka, kita juga harus seksama. Kepemimpinan efektif tidak sama dengan kepemimpinan asal terobos dan asal jadi. Kita perlu kepemimpinan efektif, karena didukung rakyat, bukan karena membungkam suara rakyat. Kita perlu kepemimpinan yang membuktikan keadilan ditegakkan, tidak melanggar HAM, tidak KKN dan tidak korupsi," sambung Boediono dengan nada menyindir.
Setelah itu, Boediono juga mencoba interaktif terhadap massanya. "Alhamdulillah, di antara kita, ada pemimpin yang memenuhi syarat-syarat itu. Siapa dia?" tanya Boediono dengan masih berapi-api. "SBY," jelas Boediono yang juga diiringi oleh jawaban massa pendukung.
Boediono juga memuji SBY yang dianggap berhasil memerintah Indonesia lima tahun terakhir. "Di bawah beliau, NKRI tetap utuh, demokrasi berkembang dan HAM terjaga. Indonesia juga bisa swasembada beras, setelah lepas seperempat abad," tutur Boediono.
Karena itu, menurut dia, rakyat tidak salah pilih bila dalam Pilpres kali ini memilih SBY lagi. "Saya sangat yakin Pak SBY akan membawa Indonesia ke masa depan dengan arah yang tepat," tegas Boediono.
Setelah itu, Boediono memanggil SBY untuk berorasi. "Mari kita sambut Dr H Susilo Bambang Yudhoyono," kata Boediono sambil diiringi tepuk tangan. Hingga pukul 17.20 WIB, SBY masih menyampaikan orasi dengan berapi-api dan suara menggelegar.
